Hubungan Kelembapan Udara dan Intensitas Pencahayaan Dengan Sick Building Syndrome di Departemen K3 PT X Jakarta

Authors

  • Nurrohmah
  • Afrian Eskartya Harjono Universitas Sebelas Maret
  • Reni Wijayanti
  • Maria Paskanita Widjanarti

DOI:

https://doi.org/10.20961/jaht.v4i2.3209

Keywords:

intensitas pencahayaan; kelembapan udara; sick building syndrome

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sangat berkaitan dengan kondisi kualitas udara dan lingkungan fisik di dalam sebuah bangunan. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2022 diperkirakan sekitar 3,2 juta orang akan meninggal sebelum waktunya akibat penyakit yang disebabkan oleh polusi udara di dalam ruangan Penelitian ini memfokuskan kajian pada dua faktor fisik utama yang diduga menjadi pemicu gejala tersebut, yakni tingkat kelembapan udara serta intensitas pencahayaan di area kerja. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel jenuh atau total sampling, di mana seluruh populasi sebanyak 81 responden dilibatkan dalam studi. Untuk menjamin validitas data, proses pengukuran dilakukan secara objektif menggunakan instrumen hygrometer untuk memantau kelembapan dan lux meter untuk mengukur kuat penerangan. Selain itu, kuesioner khusus SBS digunakan untuk mengidentifikasi persepsi keluhan kesehatan dari para pekerja. Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank mengungkapkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara kelembapan udara terhadap kemunculan SBS (p=0,000). Temuan serupa juga diperoleh pada variabel intensitas pencahayaan yang menunjukkan nilai signifikansi p=0,000. Melalui uji regresi linier berganda, diketahui bahwa secara simultan kelembapan dan pencahayaan memberikan kontribusi sebesar 54,7% terhadap risiko terjadinya SBS. Dari kedua variabel tersebut, kelembapan udara ditemukan sebagai faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kesehatan pekerja, dengan nilai t sebesar 6,251 dan nilai p<0,05. Hal ini menunjukkan perlunya manajemen lingkungan kerja yang lebih ketat guna menekan prevalensi keluhan kesehatan di perkantoran.

References

[1] N. Forcada, M. Gangolells, M. Casals, B. Tejedor, M. Macarulla, K. Gaspar. (2021). Field study on thermal comfort in nursing homes in heated environments, Energi Build. 244.

[2] EPA. (2016). Indoor Air Facts No.4 (revised) Sick Building Syndrome. https://doi.org/10.1136/oem.2003.008813

[3] OSHA. (2015). Indoor air quality in commercial and institutional buildings. 3430–04. https://www.osha.gov/Publications/3430indoor-air-quality-sm.pdf

[4] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 48. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 Tentang Standar Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Perkantoran, 12(1), 579–587.

[5] Muniarti, N. (2018). Hubungan Suhu dan Kelembapan dengan Keluhan Sick Building Syndrome pada Petugas Administrasi Rumah Sakit Swasta X. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 7(3), 148–154.

[6] Asri, A. N., Pulungan, R. M., & Fitri, A. M. (2019). Hubungan Lingkungan Kerja dengan Gejala Sick Building Syndrome pada Pegawai BPJS Kesehatan Depok Tahun 2019. Journal of Public Health Research and Community Health Development, 3(1), 44. https://doi.org/10.20473/jphrecode.v3i1.14628

[7] Hartoyo, S. 2009. Faktor Lingkungan Yang Berhubungan Dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) Di Pusat Laboratorium Forensik Dan Uji Balistik Mabes POLRI. Universitas Diponegoro. Semarang

[8] Aziziyani, D. A. (2019). Hubungan Suhu, Kelembapan, dan Angka Kuman Dengan kejadian Sick Building Syndrome (SBS) di Kantor X jakarta Tahun 2019. Skripsi. Univerisitas Binawan Jakarta.

[9] Saputri, Y. E. (2021). Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Sick Building Syndrome (SBS) Pada Karyawa di PT. INKA Multi Solusi Service Madiun. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 129.

[10] Ayu, L., Budiastutik, I., & Trisnawati, E. (2013). Hubungan Antara Suhu, Kelembapan Dan Jumlah Bakteri Di Udara Pada Ruangan Ber-Ac Dengan Sick Building Sindrome (Sbs)Pada Karyawanpt. Alas Kusuma Groupkabupaten Kubu Raya. Naskah Publikasi.

[11] Sulistyanto, R. A. (2017). Faktor Individu dan Kualitas Lingkungan Fisik dalam Gedung dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) pada Pegawai PT. Telkom Kabupaten Jember. 109. https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/86925

[12] Findhiawati, M. F., Yuniastuti, T., & Joegijantoro, R. (2022). Hubungan Kualitas Fisik Udara Dan Bangunan Dengan Gejala Sick Building Syndrom (Sbs). Media Husada Journal of Environmental Health, 2(2), 189–200. https://mhjeh.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjeh/article/download/34/27

[13] Tritama, A. S., Rachman, F., & Dermawan, D. (2017). Studi Analisis Pengaruh Kondisi Lingkungan Kerja Terhadap Sick Building Syndrome ( SBS ) Pada Karyawan di Gedung Perkantoran Perusahaan Fabrikasi Pipa Abstrak. Jurnal Teknik Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, 2581, 10–14.

Downloads

Published

2026-03-06

Issue

Section

Articles