PERKEMBANGAN PEMUKIMAN EROPA DI SURABAYATAHUN 1906-1940
Keywords:
Pemukiman, Etnis Eropa, Kota Surabaya, Settlement, Etchnic Europe, Surabaya CityAbstract
Pemukiman Eropa di Surabaya pada awalnya berada di sekitar benteng yang berada di pesisir dan di kawasan
Jembatan Merah. Perkembangan yang signifikan terjadi ketika Surabaya diberi hak otonomi untuk mengelola
anggaran dananya secara mandiri yang ditandai dengan pemberian status gemeente pada 1906. Setelah
menjadi Gemeente Surabaya, perluasan daerah pemukiman Eropa dilakukan ke arah selatan kota seperti
Goebeng, Ketabang, Koepang, Ngagel, Darmo yang dilakukan secara bertahap. Memasuki tahun 1930
pembangunan perumahan semakin gencar dilakukan, fasilitas umum juga banyak yang mengalami renovasi.
Hingga menjelang akhir pemerintahan kolonial, keadaan pemukiman Eropa di Surabaya berubah. Rumah
rumah mereka dijarah, sekolah-sekolah diubah menjadi barak pertahanan, pertokoan dirampok, dan Jepang
terus melakukan pengeboman untuk meyakinkan orang Eropa bahwa masanya telah berakhir. Keberadaan
pemukiman Eropa di Surabaya juga membawa pengaruh bagi penduduk Bumiputera, seperti pada awalnya
mereka terasingkan ke pinggiran kota menempati kampung yang kumuh. Menyikapi hal tersebut pemerintah
membuat kebijakan untuk memperbaiki kampung-kampung yang dihuni penduduk Bumiputera agar menjadi
lebih nyaman dan bersih.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 DIAKRONIK: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sejarah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.